Sejarah Haul Syekh Abdullah
Oleh: K. Kamto,
Dibacakan Ketika peringatan Haul Syekh Abdullah ke X
Jauh sebelum peristiwa penemuan makam, para ulama terdahulu di Kecamatan Ngawen seperti Simbah K. Ahmad Ahmad Janaz dan K. Abdullah Djirim pernah menyampaikan cerita kepada almarhum Kyai Shoheh. Ketika itu, Kyai Shoheh bersama Kyai Khozin sedang sowan kepada K. Ahmad Ahmad Janaz. Di Nglongko, mereka menyampaikan bahwa di tempat tersebut ada seorang wali yang kesehariannya berjualan tampar (sejenis tali yang terbuat dari serat bambu). Namun, mereka tidak menyebutkan siapa nama dan silsilah keturunannya. Para ulama sepuh itu meyakini bahwa pada waktunya nanti, Allah sendiri yang akan membuka dan memperjelas silsilah Waliyullah tersebut. Cerita ini kemudian disampaikan oleh Mbah Shoheh kepada para santrinya, termasuk Kyai Kamto.
Penemuan makam Waliyullah Syekh Abdullah di Maqbaroh Nglongko, Desa Sambongrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, menjadi bukti nyata dari apa yang dahulu telah diceritakan oleh para ulama sepuh tersebut.
Peristiwa ini bermula pada hari Sabtu Pon, 13 April 2016 bertepatan dengan bulan Rajab, ketika salah satu warga bernama Padi meninggal dunia. Saat dilakukan penggalian makam untuk almarhum, para penggali menemukan jenazah lain yang masih utuh — jasad tersebut terbungkus kain kafan yang masih baik dan tak menunjukkan tanda-tanda kerusakan, meskipun lokasi tersebut sebelumnya tidak diketahui sebagai makam.
Kabar ini segera menyebar dan mengundang perhatian banyak pihak, termasuk Kyai Kamto yang kemudian menghubungi Kyai Busro, seorang alim di Kecamatan Ngawen. Atas arahan beliau, penggalian makam almarhum Padi dipindahkan ke lahan sebelah sekitar satu meter agar tidak bertumpuk dengan makam yang telah ditemukan.
Setelah tujuh hari dari wafatnya almarhum Padi, para tokoh agama dan masyarakat Nglongko bersepakat untuk mencari kejelasan (tashih) tentang identitas jasad utuh tersebut, agar tidak menimbulkan fitnah di tengah masyarakat. Rombongan yang terdiri dari Kyai Kamto, almarhum KH. Nasuha Nawawi dari Klokah, Kepala Desa Sambongrejo Mat Khohir, serta beberapa tokoh agama dan masyarakat lainnya kemudian melakukan perjalanan sowan ke Rembang untuk menemui KH. Rojih Ubab Maemun. Namun, KH. Rojih mengarahkan rombongan untuk bertemu langsung dengan simbah beliau, yakni KH. Maemun Zubair.
KH.Maemun Zubair dikenal luas sebagai ulama besar yang alim dan masyhur. Beliau wafat Ketika sedang dalam rangkaian melaksanakan Ibadah haji di tanah Suci Makkah. Bahkan, ketika jasad beliau akan dipindahkan dari maqbaroh di Makkah, ditemukan masih dalam keadaan utuh — sebuah karomah yang menguatkan keyakinan umat akan kewalian beliau.
Sesampainya di kediaman KH. Maemun Zubair, rombongan disambut langsung dan menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk men-tashih jasad yang ditemukan di Nglongko. Setelah merenung sekitar lima belas menit, KH. Maemun pun menyampaikan bahwa jasad tersebut adalah jasad seorang Wali Allah yang bernama Abdullah.
Beliau juga berpesan agar makam tersebut dijaga dan dipelihara dengan sungguh-sungguh. “Kalau bisa, diperingati (haul), tetapi jangan di bulan Suro. Sebaiknya haul dilakukan pada bulan Ruwah, tepatnya malam Nishfu Sya’ban,” pesan beliau. KH. Maemun menjelaskan bahwa para wali yang di-haul pada bulan Suro biasanya dikenal dengan karomah yang bersifat kejadugan, sedangkan wali yang di-haul pada bulan Ruwah adalah mereka yang memiliki kedalaman ilmu. Beliau juga menyarankan agar makam tersebut dibangun walaupun secara sederhana. masyarakat juga disarankan untuk membawa sedekah saat kegiatan haul, agar senantiasa memperoleh keberkahan dari Wali Allah.
Saat ditanya mengenai silsilah Syekh Abdullah, KH. Maemun menegaskan bahwa hal tersebut tidak perlu ditanyakan. Yang terpenting, jika wali Allah sudah ditampakkan, sudah diyakini sebagai Wali Allah, maka cukup untuk dihormati dan dirawat makamnya dengan penuh keikhlasan. In syaa Allah suatu saat, Allah akan membukakan silsilah beliau.
Sejak mendapatkan tashih tersebut, masyarakat Desa Sambongrejo rutin mengadakan haul setiap pertengahan bulan Ruwah atau pada malam Nishfu Sya’ban. Diharapkan, peristiwa ini menjadi pelajaran spiritual bagi masyarakat dan menjadi momentum untuk menggali kembali nilai-nilai perjuangan para ulama terdahulu dalam menyebarkan agama Islam dengan penuh keikhlasan dan keberanian.
Carx.